proses terbentuknya kepulauan indonesia menurut teori big bang
Berikutini beberapa teori mengenai jagat raya dan pembentukan
Paraahli pun berpendapat bahwa wilayah kepulauan Indonesia secara tektonis merupakan wilayah yang sangat aktif dan labil sehingga rawan gempa sepanjang waktu. Adapun, sejarah terbentuknya kepulauan Indonesia terjadi di masa Mesozoikum atau 65 juta tahun yang lalu. Saat itu kondisi geografis masih merupakan samudera yang luas.
TeoriBig Bang menyatakan bahwa alam semesta ini pada awalnya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang di jagad raya. Jika dilihat denga teleskop besar Mount Wilson, maka akan terlihat ruang jagad raya ini luasnya mencapai radius 500 juta tahun cahaya. Terbentuknya Kepulauan Indonesia
MATERITeori Big Bang Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa.
Teoriini dikemukakan oleh Forest Ray Moulton dan Thomas C. Chamberlain yang astronom. Teori ini dikemukakan pada abad ke-20. Inti dari teori ini, bumi dan planet-planet lain terbentuk dari gas yang dibuang dari tepi matahari, yang kemudian menjadi dingin dan padat. 3. Teori Pasang Surut Gas (Tidal)
Rencontre Avec Les Femmes Celibataires Au Mali. Seperti apa proses terbentuknya kepulauan di Indonesia? Umum diketahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Survei terakhir yang pernah dilakukan oleh Lapan dan LIPI, jumlah pulau yang dimiliki Indonesia adalah pulau. Angka ini sedikit lebih banyak dari jumlah pulau yang didata oleh pemerintah melalui Departemen Dalam Negeri RI, yakni sebanyak pulau. Proses Terbentuknya Kepulauan Indonesia Kepulauan Indonesia membentang dari Barat ke Timur sepanjang kilomenter. Sedangkan, jika dilihat dari garis meridian, yaitu sepanjang kilometer. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang, yaitu sekitar kilometer. Secara astronomis, gugus kepulauan Indonesia terletak di antara garis 6 derajat Lintang Utara, 11 Derajat Lintang Selatan, dan di antara Garis Meridian 95 derajat dan 141 derajat Timur Greenwich. Dari sekian banyak kepulauan Indonesia, pulau-pulau utamanya adalah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, Madura, dan Bali. Total luas seluruh daratan kepulauan Indonesia adalah km persegi. Sedangkan, total luas lautannya adalah km persegi. Bagaimana proses terbentuknya kepulauan di Indonesia? Nah, uraian kali ini akan memberikan penjelasan seputar terbentuknya kepulauan di Indonesia. Semoga setelah membaca uraian ini, pengetahuan pembaca tentang kepulauan Indonesia semakin bertambah. Yuk, berikut ini ulasannya... Terbentuknya Kepulauan Secara umum terbentuknya berbagai kepulauan di dunia dapat dijelaskan menggunakan dua teori, yaitu teori continental drift dan teori plate-tectonics. Kedua teori ini menjadi penjelasan terbaik yang dimiliki oleh para ahli geologis dalam menjelaskan terbentuknya berbagai kepulauan di planet bumi. Berikut ini kita akan lihat seperti apa kedua teori tersebut 1. Teori Continental Drift Teori Continental Drift disebut juga dengan teori pergerakan benua atau kontinen. Menurut teori ini, dahulu sebelum bumi mencapai bentuknya sekarang, hanya terdapat satu daratan besar yang disebut Pangea. Seiring berjalannya waktu, lambat tapi pasti bagian-bagian pangea mengalami pergerakan atau pergeseran formasi akibat dari pembentukan susunan dasar bumi. Pangea pecah menjadi 6 bagian yang masing-masing dipisahkan oleh lautan dan samudera. Selanjutnya masing-masing bagian dari benua tersebut pecah lagi membentuk bagian lebih kecil menjadi kepulauan. 2. Teori Plate-Tectonics Teori plate-tectonics disebut juga dengan teori lempeng tektonik. Menurut teori ini pembentukan seluruh benua yang ada di bumi ini disebabkan oleh adanya pergerakan jalur lempengan dasar permukaan bumi. Pergerakan tersebut sebagai akibat dari pergerakan aktif sejumlah gunung berapi di bumi. Aktivitas tersebut menimbulkan gempa tektonik dengan skala super besar dan dahsyat sampai membelah beberapa daratan menjadi benua. Terbentuknya Kepulauan Indonesia Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di benua asia. Indonesia memiliki beberapa pulau utama dan puluhan ribu pulau kecil. Oleh para ahli, terbentuknya kepulauan Indonesia dapat dijelaskan menggunakan 3 teori, yaitu teori Proses Geologis, teori proses tektonik lempeng, dan teori tektonik kepulauan. Mari kita lihat seperti apa penjelasan dari masing-masing teori ini 1. Teori Proses Geologis Terbentuknya kepulauan Indonesia dapat dijelaskan menggunakan sudut pandang geologis. Aktivitas ini terjadi pada saat proses pembentukan alam, yang terdiri dari proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen adalah aktivitas bumi yang menggunakan tenaga dari dalam bumi. Hal ini sebagai akibat dari sifat dinamis bumi. Selanjutnya akan terjadi deformasi kerak bumi yang menimbulkan adanya formasi daratan. Beberapa pulau di Indonesia terpisah dari bagian utamanya akibat tenaga endogen ini. Contoh aktivitas endogen bumi adalah gempa bumi dan letusan gunung berapi. Gempa bumi dan letusan gunung berapi purba yang sebagian besar berkekuatan dahsyat mengakibatkan goncangan dan pergeseran permukaan daratan. Secara perlahan, bagian-bagian pulau akan terpisah, bagian tepi yang curam dengan keadaan batuan tidak terkonsolidasi dengan baik akan longsor. Selanjutnya, proses endogen ini akan dibantu juga dengan proses eksogen, dimana tenaganya berasal dari luar bumi, seperti hujan, angin, dan iklim. Proses eksogen ini akan mempercepat terjadinya pelapukan batuan sehingga pemisahan bagian semakin cepat terjadi. 2. Teori Tektonik Lempeng Terbentuknya kepulauan Indonesia dapat dijelaskan juga menggunakan teori tektonik lempeng. Menurut teori ini, pembentukan kepulauan Indonesia terjadi sekitar 55 juta tahun yang lalu. Pembentukan ini sebagai hasil dari interaksi tiga lempeng penyusun bumi, yaitu lempeng eurasia, lempeng laut Filipina, dan lempeng samudera hindia. Ketiga lempeng ini bergerak secara dinamis dengan kecepatan 7-8 cm per tahun. Lempeng Samudera Hindia bergerak relatif ke utara, Lempeng Laut Filipina bergerak ke arah Barat Daya, dan Lempeng Eurasia cenderung stabil. Kemunculan pulau-pulau di Indonesia banyak terjadi di sekitar Samudera Pasifik dan Samudera Hindia sebab menjadi lokasi pergerakan yang paling aktif. 3. Teori Tektonik Kepulauan Terbentuknya kepulauan Indonesia juga dapat dijelaskan menggunakan teori tektonik kepulauan. Menurut teori ini, kepulauan Indonesia terbentuk dari hasil pergerakan tiga lempeng besar, yaitu lempeng Asia di sebelah utara, lempeng samudera Hindia di sebelah selatan, dan lempeng pasifik di sebelah barat. Terbentuknya Pulau Utama Indonesia Pulau-pulau utama di kepulauan Indonesia adalah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, Madura, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara. Terdapat proses yang mengiringi pembentukan masing-masing pulau utama ini. Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara; proses pembentukannya diakibatkan oleh aktivitas vulkanisme di bawah permukaan bumi. Aktivitas tersebut berupa keluarnya lava dalam rentang waktu yang sangat lama. Lava ini selanjutnya akan memadat dan mengeras membentuk sebuah busur pulau. Pulau Kalimantan proses pembentukannya adalah hasil dari pecahan super benua pada masa awal pembentukan permukaan bumi. Pulau ini dahulunya bergabung dengan sebagian daerah Malaysia, kemudian terus bergerak ke Filipina dan mendekati daratan Asia. Pulau Papua, terbentuk dari endapan yang berada di dasar laut dalam Samudera Pasifik. Pulau ini termasuk ke dalam lempeng Australia. Terjadi pengangkatan pulau Papua dari dasar laut sebagai akibat dari penunjaman lempeng pasifik ke bawah lempeng Australia. Bukti adanya pengangkatan ini adalah ditemukannya fosil kerang dan pasir laut di daerah pegunungan. Pulau Sulawesi, terbentuk dari hasil pertemuan antara lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Filipina, dan beberapa lempeng kecil lainnya. Sehingga, Pulau ini merupakan hasil gabungan dari berbagai lempeng benua yang saling bertumbukan. Demikianlah penjelasan tentang Proses Terbentuknya Kepulauan Indonesia. Bagikan informasi ini agar orang lain juga bisa membacanya. Terima kasih, semoga bermanfaat.
JIKA Anda penasaran mengenai bagaimana terjadinya alam semesta, teori big bang adalah yang paling banyak dipercaya. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Alexandra Friedman pada adalah ahli fisika asal Rusia. Teori big bang, yang juga biasa disebut teori dentuman atau ledakan berarti ledakan dahsyat atau dentuman besar, sesuai dengan namanya The Big Bang. Ledakan itu disebut menyebabkan pembentukan alam semesta berdasarkan kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta atau singkatnya teori ini membahas tentang struktur alam semesta yang selalu berubah dinamis. Baca juga Rumus Daya Pengertian, dan Satuannya Pada buku Big Bang Theory, The Teori Terbentuknya Alam Sutra, teori dentuman besar Teori Big Bang, alam semesta terdiri dari massa yang sangat besar dan massa jenis yang sangat besar juga. Kemudian, adanya reaksi inti mengakibatkan massa tersebut meledak dan mengembang sangat cepat hingga menjauhi pusat ledakan. Ledakan dahsyat itu terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, teori ini dikembangkan oleh astronom Amerika Serikat AS yaitu Edwin Hubble. Menurut Hubble, pada awalnya, bintang-bintang itu berkumpul di satu titik massa yang dikenal dengan volume nol. Namun, pada suatu waktu volume nol itu meledak dan mengembang. Setelah terjadi ledakan dahsyat di volume nol, semua galaksi dan bintang-bintang mengalami pergeseran cahaya bintang-bintang yang mendekati spektrum merah. Dengan kata lain, pergeseran yang terjadi akibat ledakan dahsyat mengakibatkan bintang-bintang menjauhi Bumi dan perlahan-lahan saling menjauh satu sama lain. Nah kira-kira seperti itulah gambaran awal mula terjadinya alam semesta menurut teori Big Bang. Ant/OL-1
Bumi kita yang terhampar luas ini diciptakan Tuhan Yang Maha Pencipta untuk kehidupan dan kepentingan hidup manusia. Di bumi ini hidup berbagai flora dan fauna serta tempat bersemainya manusia dengan keturunannya. Di bumi ini kita bisa menyaksikan keindahan alam, kita bisa beraktivitas dan berikhtiar memenuhi kebutuhan hidup kita. Namun harus dipahami bahwa bumi kita juga sering menimbulkan bencana. Sebagai contoh munculnya aktivitas lempeng bumi yang kemudian melahirkan gempa bumi baik tektonis maupun vulkanis, bahkan sampai menimbulkan contoh tentu kamu masih ingat bagaimana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, di Papua dan beberapa di daerah lain, termasuk beberapa gunung berapi meletus. Bencana tersebut telah mengakibatkan ribuan nyawa hilang dan harta benda melayang. Fenomena alam yang terjadi itu merupakan bagian tak terpisahkan dari aktivitas panjang bumi kita sejak proses terjadinya alam semesta ratusan bahkan ribuan juta tahun yang lalu. Proses tersebut secara geologis mengalami beberapa tahapan atau pembabakan waktu. Berikut ini kita mencoba menelaah tentang pembabakan waktu alam secara geologis dan bagaimana Kepulauan Indonesia TeksAda banyak teori dan penjelasan tentang penciptaan bumi, mulai dari mitos sampai kepada penjelasan agama dan ilmu pengetahuan. Kali ini kamu belajar sejarah sebagai cabang keilmuan, pembahasannya adalah pendekatan ilmu pengetahuan, yakni asumsi-asumsi ilmiah, yang kiranya juga tidak perlu bertentangan dengan ajaran agama. Salah satu di antara teori ilmiah tentang terbentuknya bumi adalah Teori “Dentuman Besar” Big Bang, seperti dikemukaan oleh sejumlah ilmuwan dan yang mutakhir seperti ilmuwan besar Inggris, Stephen Hawking. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya. Jika digunakan teleskop besar Mount Wilson untuk mengamatinya akan terlihat ruang jagad raya itu luasnya mencapai radius tahun cahaya. Gumpalan gas itu suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat. Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya tersisa energi berupa proton, neutron dan elektron, yang bertebaran ke seluruh arah. Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru, sehingga membentuk galaksi-galaksi bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi, bulan dan meteorit. Bumi kita hanyalah salah satu titik kecil saja di antara tata surya yang mengisi jagad semesta. Di samping itu banyak planet lain termasuk bintang-bintang yang menghiasi langit yang tak terhitung jumlahnya. Boleh jadi ukurannya jauh lebih besar dari planet bumi. Bintang-bintang berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antarbintang berjauhan letaknya di angkasa. Ada juga ilmuwan astronomi yang mengibaratkan galaksi bintang-bintang itu tak ubahnya seperti sekumpulan anak ayam, yang tak mungkin dipisahkan dari induknya. Jadi di mana ada anak ayam di situ pasti ada induknya. Seperti halnya dengan anak-anak ayam, bintang-bintang di angkasa tak mungkin gemerlap sendirian tanpa disandingi dengan bintang lainnya. Sistem alam semesta dengan semua benda langit sudah tersusun secara menakjubkan dan masing-masing beredar secara teratur dan rapi pada sumbunya masing-masing. Selanjutnya proses evolusi alam semesta itu memakan waktu kosmologis yang sangat lama sampai berjuta tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang sangat panjang. Ilmu Paleontologi membaginya dalam enam tahap waktu geologis. Masing-masing ditandai oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua dan makhluk hidup yang paling sederhana. Proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut. Azoicum Yunani a = tidak; zoon = hewan, yaitu zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk dengan suhu yang relatif tinggi. Waktunya lebih dari satu miliar tahun lalu. Palaezoicum, yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah meninggalkan fosil flora dan fauna. Berlangsung kira-kira yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia menyusui, hewan amfibi, burung dan tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira tahun. Neozoicum, yaitu zaman purba baru, yang dimulai sejak tahun yang lalu. Zaman ini dapat dibagi lagi menjadi dua tahap Tersier dan Quarter, zaman es mulai menyusut dan makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup. Merujuk pada tarikh bumi di atas, sejarah di Kepulauan Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang dan rumit. Sebelum bumi didiami manusia, kepulauan ini hanya diisi tumbuhan flora dan fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Alam juga harus menjalani evolusi terusmenerus untuk menemukan keseimbangan agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam dan iklim, sehingga makhluk hidup dapat bertahan dan berkembang biak mengikuti seleksi alam. Gugusan kepulauan ataupun wilayah maritim seperti yang kita temukan sekarang ini terletak di antara dua benua dan dua samudra, antara Benua Asia di utara dan Australia di selatan, antara Samudra Hindia di barat dan Samudra Pasifik di belahan timur. Faktor letak ini memainkan peran strategis sejak zaman kuno sampai sekarang. Namun sebelum itu marilah kita sebentar berkenalan dengan kondisi alamnya, terutama unsur-unsur geologi atau unsurunsur geodinamika yang sangat berperan dalam pembentukan Kepulauan Indonesia. Menurut para ahli bumi, posisi pulau-pulau di Kepulauan Indonesia terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti perut bumi tersebut berupa lava cair bersuhu sangat tinggi. Makin ke dalam tekanan dan suhunya semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi itu material-material akan meleleh sehingga material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu tinggi ini terusmenerus bergejolak mempertahankan cairan sejak jutaan tahun lalu. Ketika ada celah lubang keluar, cairan tersebut keluar berbentuk lava cair. Ketika lava mencapai permukaan bumi, suhu menjadi lebih dingin dari ribuan derajat menjadi hanya bersuhu normal sekitar 30 derajat. Pada suhu ini cairan lava akan membeku membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan kerak benua daratan dan kerak samudra selalu bergerak secara dinamis akibat tekanan magma dari perut bumi. Pergerakan unsur-unsur geodinamika ini dikenal sebagai kegiatan tektonis. Sebagian wilayah di Kepulauan Indonesia merupakan titik temu di antara tiga lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia di selatan, Lempeng Eurasia di utara dan Lempeng Pasifik di timur. Pergerakan lempeng lempeng tersebut dapat berupa subduksi pergerakan lempeng ke atas, obduksi pergerakan lempeng ke bawah dan kolisi tumbukan lempeng. Pergerakan lain dapat berupa pemisahan atau divergensi tabrakan lempenglempeng. Pergerakan mendatar berupa pergeseran lempenglempeng tersebut masih terus Pada masa Paleozoikum masa kehidupan tertua keadaan geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini. Di kala itu wilayah ini masih merupakan bagian dari samudra yang sangat luas, meliputi hampir seluruh bumi. Pada fase berikutnya, yaitu pada akhir masa Mesozoikum, sekitar 65 juta tahun lalu, kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempenglempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Kegiatan ini dikenal sebagai fase tektonis orogenesa larami, sehingga menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau yang terpisah satu dengan lainnya. Sebagian di antaranya bergerak ke selatan membentuk pulau-pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia. Sebagian pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau Timor, Kepulauan Nusa Tenggara Timur dan sebagian Maluku Tenggara. Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut telah mengakibatkan wilayah pertemuan keduanya sangat labil. Kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk rangkaian Kepulauan Indonesia pada masa Tersier sekitar 65 juta tahun lalu. Sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan dan Jawa telah tenggelam menjadi laut dangkal sebagai akibat terjadinya proses kenaikan permukaan laut atau transgresi. Sulawesi pada masa itu sudah mulai terbentuk, sementara Papua sudah mulai bergeser ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut dangkal berupa paparan dengan terbentuknya endapan batu gamping. Pada kala Pliosen sekitar lima juta tahun lalu, terjadi pergerakan tektonis yang sangat kuat, yang mengakibatkan terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya atau mungkin lebih tepat terbentuk rangkaian perbukitan struktural seperti perbukitan besar gunung, dan perbukitan lipatan serta rangkaian gunung api aktif sepanjang gugusan perbukitan itu. Kegiatan tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa Pleistosen, yang dikenal sebagai kegiatan tektonis Plio-Pleistosen. Kegiatan tektonis ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia. Gunung api aktif dan rangkaian perbukitan struktural tersebar di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke sepanjang Pulau Jawa ke arah timur hingga Kepulauan Nusa Tenggara serta Kepulauan Banda. Kemudian terus membentang sepanjang Sulawesi Selatan dan Utara. Pembentukan daratan yang semakin luas itu telah membentuk Kepulauan Indonesia pada kedudukan pulau-pulau seperti sekarang ini. Hal itu telah berlangsung sejak kala Pliosen hingga awal Pleistosen 1,8 juta tahun lalu.Jadi pulau-pulau di kawasan Kepulauan Indonesia ini masih terus bergerak secara dinamis, sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa, baik vulkanis maupun tektonis. Letak Kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi. Kekayaan alam dan kondisi geografis ini telah mendorong lahirnya penelitian dari bangsabangsa lain. Dari sekian banyak penelitian terhadap flora dan fauna tersebut yang paling terkenal di antaranya adalah peneliti Alfred Russel Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang berbeda berdasarkan ciri khusus baik fauna maupun floranya. Pembagian itu adalah Paparan Sahul di sebelah timur, Paparan Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut kemudian dikenal sebagai wilayah Wallacea yang merupakan pembatas fauna yang membentang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar ke arah utara. Fauna-fauna yang berada di sebelah barat garis pembatas itu disebut dengan Indo-Malayan region. Di sebelah timur disebut dengan Australia Malayan region. Garis itulah yang kemudian kita kenal dengan Garis Wallacea.
proses terbentuknya kepulauan indonesia menurut teori big bang